
Hmm baru mulai posting lagi. Baru sempet, kelamaan mikir, dan alasan lainnya.
Sepertinya juga baru kemarin yah gue posting tentang kampung halaman gue, Padang. Baru posting juga tentang kunjungan gue ke Pariaman en berwisata kuliner disana. Bahkan gue belum posting tentang liburan gue sebelum balik ke Jakarta, yaitu menikmati Pulau Sikuai yang ndah beserta pasir putihnya yang begitu menggoda.
30 September 2009. 7.6 SR. Gempa. Berpusat di Pariaman Sumbar. 17.16 WIB
17.25 : gue baru selese telponan dengan temen gue, cek twitter bentar, dan liaht tweet-nya @infogempabmg. Gempa berpusat di Pariaman? Oh. Sebentar...7.6 SR? Umm yang di Tasik itu 7,3 SR kan ya...bikin rumah rusak dan banyak korban jiwa....artinya kalo 7,6 SR....OUUUUUCH!!!!!
Astaghfirullah!!! Gue langsung teriak, ya ampun itu kan artinya gempa yang gede banget!!
17.30 : kantor sepi. cuma ada gue dan Olla yang berusaha menenangkan. No, I was panic. Telponin bokap nyokap tapi ga nyambung. So damned! Gue pulang. Di kostan langsung liat tivi yang menyiarkan gempa. Dan sms pun berdatangan, menanyakan gimana keadaan keluarga gue. I have no idea about them. Tidak ada yang bisa dihubungi. Tidak ada kontak. Sementara breaking news hampir di smua tivi makin menggila, seiring semakin larut mereka mulai dapet gambar langsung dari Padang. Banyak bangunan roboh. Listrik mati, hujan deras, dan kebakaran. Suasana sempurna bukan setelah gempa hebat?
20.30 : sms gue dibales papa. Isinya bilang kalo mereka gapapa. Disambung sms kalo rumah tante gue roboh. Nangis!
Besok paginya papa nelpon gue ke kosan. Baru bisa dari telepon rumah. Cerita semuanya. Dan betapa mengerikannya gempa. Yeah, I knew, horrible.
Ibaratnya, oleh-oleh yang gue bawa dari Padang masih ada, eh kota kelahiran gue itu sekarang porak poranda. Tempat gue biasa beli oleh-oleh itu juga ambruk, tak bersisa. Gue baru balik ke Jakarta hari Minggu, dan gempanya hari Rabu. How sad. Sad. Sad. Sad.
Sedih sekali tiap melihat berita di tivi. Gambar-gambar bagunan roboh, belum lagi cerita tentang korban jiwa. Orang-orang yang diwawancara sambil nangis. Kehilangan anggota keluarga. Dan lain-lain yang membuat gue sangat berduka. Andai saja gue ada disana dan merasakan ketakutan bersama keluarga gue, akan lebih baik daripada gue khawatir dan tidak mengetahui keadaan mereka.
Well, seminggu sudah berlalu. Gue percaya kota itu akan bangkit lagi. Bukan hanya orang Padang yang di daerah lain yang berharap seperti itu, but I believe world need Padang to survive. Terima kasih sekali bantuannya banyak berdatangan, bahkan dari luar negeri sekalipun. That's worth!
Hmm, sepertinya gue akan pulang lagi deh. Bukan untuk melihat bagaimana hancurnya kota itu. Tapi untuk melihat lagi bagaimana mereka bersemangat untuk bangkit :)
Sedih sekali tiap melihat berita di tivi. Gambar-gambar bagunan roboh, belum lagi cerita tentang korban jiwa. Orang-orang yang diwawancara sambil nangis. Kehilangan anggota keluarga. Dan lain-lain yang membuat gue sangat berduka. Andai saja gue ada disana dan merasakan ketakutan bersama keluarga gue, akan lebih baik daripada gue khawatir dan tidak mengetahui keadaan mereka.
Well, seminggu sudah berlalu. Gue percaya kota itu akan bangkit lagi. Bukan hanya orang Padang yang di daerah lain yang berharap seperti itu, but I believe world need Padang to survive. Terima kasih sekali bantuannya banyak berdatangan, bahkan dari luar negeri sekalipun. That's worth!
Hmm, sepertinya gue akan pulang lagi deh. Bukan untuk melihat bagaimana hancurnya kota itu. Tapi untuk melihat lagi bagaimana mereka bersemangat untuk bangkit :)


4 komentar:
salam kenal tetap semangat bro
tetap semangat
kapan kapan mampir ya mbak di blogger saya
ikut berduka cita atas Gemapa di SUMBAR,
salam kenal..
ayahku juga dari Padang, tepatnya Bukittinggi, dan waktu gempa itu, aku juga ngalamin kepanikan yang sama, karena ga bisa ngubungin siapa2 disana..
Padang harus sembuh, dan bangkit!
all : thanx yah, udah mampir dan komen. senang sekali...salam kenal :)
Post a Comment